Donation Appeal
Image

me with traditional tattoo

Raised So Far IDR 0
0% Complete
Target : IDR 35,000,000

About Appeal

Sejak bulan Februari 2009, Aman Durga Sipatiti (seorang seniman tato yg berbasis di Jakarta) melakukan beberapa kali kunjungan ke Matotonan dan Sakuddei, pedalaman Siberut Selatan, Mentawai. Kunjungan ini bertujuan melakukan pendokumentasian titi atau tato Mentawai yang kini nyaris “punah” dan hanya tersisa di pulau Siberut.

Selain mendokumentasikan dan mencatat ulang desain-desain yang ada, Durga juga melakukan kolaborasi workshop dengan Sipatiti (ahli tato Mentawai) dan melanjutkan kembali tato mereka yang belum selesai.

Teteu Bali menceritakan ketika sanak keluarganya ditangkap polisi pamong praja dan dibawa ke Padang kerena mereka masih mempraktekkan tato dan kepercayaan leluhur mereka Arat Sabulungan.

Di dalam video dokumenter ini, Aman Lusin Kerei Sangaimang (seorang Sikerei, tetua adat) bertutur kepada Durga dan Berthoes tentang Arat Sabulungan sebagai satu sistem pengetahuan, nilai dan aturan hidup yang dipegang kuat yang diwariskan oleh leluhur suku Mentawai. Mereka meyakini adanya dunia roh-roh dan jiwa. Setiap benda yang ada, hidup atau mati mempunyai jiwa dan roh seperti manusia. Mereka harus diperlakukan seperti manusia. Karena itu orang-orang tidak boleh menebang pohon sembarangan, tanpa izin panguasa hutan (Taikaleleu) serta kesediaan dari roh dan jiwa dari kayu itu sendiri. Untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan dunia roh-roh, manusia dan alam suku Mentawai mempersembahkan berbagai sesaji dan melakukan berbagai ritual.

Dari interaksinya langsung dengan penduduk di pedalaman pulau Siberut, Durga mencoba mencari tahu arti penting tato bagi masyarakat adat Mentawai.


Recent Donors 0